Ini fenomena yang teramat sering kita dapatkan. Betapa tidak, di setiap perempatan dengan lampu merah, kita selalu menemui peminta-minta dengan tingkat usia yang beragam. Dan yang paling memiriskan hati kita, adalah anak – anak di bawah umur, yang jumlahnya bahkan jauh lebih banyak.
Anak Jalanan, adalah predikat yang kita lekatkan kepada mereka. Mungkin ini untuk membedakan tempat mereka berada, yang berbeda jauh dengan anak-anak kita -yang manis dan sehat- yang berada di Rumah. Di Jalan, yah mereka anak jalanan, dan dengan kecurigaan kita lainnya bahwa mereka akan selamanya ada dan besar di sana. Namun apakah itu memang sekedar menunjukkan tempat mereka? Jangan-jangan predikat anak jalanan ini juga adalah jarak yang sengaja kita tarik dari mereka, sebuah benang merah yang menjadi pembatas, sekedar menjauhkan mereka dari kita, juga sekaligus dari kepedulian kita. Dari yang merasa berada di satu pihak, dan yang terlihat miskin pada pihak mereka.
Alasan bahwa mereka sendiri penuh dengan kemalasan, penuh ancaman kejahatan, dan mengalami pembiaran dari pihak-pihak yang seharusnya bertanggungjawab pada mereka -terutama orang tua dan keluarga mereka lainnya- yang bahkan juga justru ada di jalan tersebut, mungkin memang benar. Bahwa mereka malah mengganggu kita para pengguna jalan, yang kemudian harus ekstra hati-hati demi keselamatan jiwa mereka sendiri yang tidak peduli dan berkeliaran seenaknya di jalan, adalah juga fakta.
Namun untuk menghadapi mereka, tetap saja perlakuan kita berbeda.
Pepatah lama ‘jangan memberi ikan, tapi berilah kail’, mungkin ini yang harus berlaku dalam menghadapi mereka. Tetapi seorang kawan dekat saya membantah keras hal itu. Karena menurutnya, ia lebih punya ikan, daripada kail di dalam mobilnya. Ia lebih mudah merongoh receh di laci dashboard mobilnya, ketimbang memikirkan hal lain untuk menyelamatkan mereka dari sana. Dan teman saya ini seratus persen yakin, sikap seperti ini juga dilakukan oleh hampir semua dari kita.
Saya merenung! Saya yang dari tadi telah siap-siap beradu argument untuk menyalahkan sikapnya, diam-diam menyetujui hal itu.
Kita memang lebih mudah melempar uang receh seratusan atau lima-ratusan kepada mereka, daripada melemparkan solusi kail tadi. Jika kita yang menggunakan angkutan umum, kadang kala dengan alasan gengsi, sehingga ditambah pula sebenarnya dengan semangat ketidakrelaan menyertai pemberian tersebut saat permintaan itu mengarah ke diri kita. Seratus rupiah untuk menunjukkan kedermawanan atau keberadaan, lebih baik daripada itu menjadi boomerang kepelitan kita dari sesama penumpang lainnya. Bahkan kita bisa menarik bonus lainnya lagi dari aksi itu, dengan pura-pura jengkel, merasa terganggu, dan memaki mereka. Wah sempurnalah saya ini, bisa memberi, bisa memaki pula. Atau kalau kita yang sedang menggunakan kendaraan pribadi, alasannya bisa jauh lebih pribadi pula. Jangan-jangan hanya karena tidak disodori receh seratusan, mereka akan menggores bodi mobil saya. Wah… ini berbahaya. Apalah arti seratusan, dibanding mobil saya ini.
Nah, memberikan uang kepada anak-anak jalanan itu, dan peminta-minta lain pada umumnya, ternyata sebahagian juga karena kita sendiri, atau tepatnya untuk kepentingan diri kita. Pelajaran luhur bahwa berderma untuk sesuatu yang mulia dan bernilai pahala, ternyata sudah jauh dari sana. Ini ternyata hanya untuk keselamatan mobil gress saya, atau harta kita. Dan keselamatan gengsi kita……………………………..
17
Apr
06
Kalau gitu serba salah dong, ngasih salah gak ngasih lebih salah lagi…dari semua tulisanmu ini yang paling kusuka, tidak mengadili dan menyalahkan pihak manapun…
Tulisanmu banyak yang bagus, aku jadi penasaran pengen kenal kamu… seperti yang satu ini, pernah nyobain buat dikirim ke majalah belum?