Pagi indah. Rony begitu bersemangat. Langkahnya pasti diiringi siulan sumbang sebagai soundtrack dari bibirnya. Samar-samar, aku bukan pilihannya-nya Iwan Fals terdengar dari sana.
Wajahnya yang rada mirip salah satu bintang sinetron yang tengah naik daun (meski untuk menjaga perasaan sang bintang namanya tidak perlu diucapkan, mengingat kekecewaannya yang mungkin timbul bila melihat wajah Rony sendiri yang disamakan dengannya, hi hi) terlihat segar. Sesekali diusapnya rambutnya yang tampil dengan efek basah (mmh, tapi tunggu deh siangan dikit, pasti efek ketombe dan patah-patah yang terlihat, hi hi..). Wangi parfum yang diiklanin di tivi bisa ngasih efek berbahaya tuk lawan jenis, tersembul dari tubuhnya yang berbalut kaos dan jeans yang rada kusam. Nggak lupa menyandang tas di bahu, sepanjang jalan bibirnya tak henti-hentinya menyunggingkan senyum.
Kampus masih sunyi. Meski sudut-sudutnya sudah mulai diterangi oleh sang surya yang rajin menyapa makhluk bumi dengan sinarnya yang hangat dan sehat itu. Apalagi sebagian lampu-lampu di sudut-sudut kampus belum dimatikan meski telah pagi, tindakan pemborosan yang pastinya tidak sesuai dengan harapan pemerintah belakangan ini. Ah, daripada memikirkan itu, Rony lebih bersemangat untuk apa yang direncanakan pagi ini.
Rony kini berbelok, mengarah ke gedung Perpustakaan, sasarannya pagi ini. Jangan salah, bukannya masuk, Rony cuma numpang lewat. Ada alasan lain, Rony yang paling anti bangun pagi itu bela-belain datang sepagi ini. Biasanya sih, jam segini ia masih ngorok di tempat tidur, asik ngimpiin putri ibu kos-kosannya yang aduhai itu…
Ini semua gara-gara cewek itu. Cewek yang tanpa sengaja ditemuinya di depan gedung perpustakaan itu. Rony yang saat itu mau pulang, sehabis lembur semalaman di ruang BEM untuk suatu acara Fakultas, tanpa sengaja berpapasan dengannya. Meski terburu-buru, Rony masih sempat menangkap senyum manis di sudut bibir sang gadis. Dan benar, serasa dijejalin es batu saat kepanasan, seperti perumpamaan yang paling senang dipakainya, Rony langsung saja melambung. Itulah awalnya.
Dan meski baru tiga kali melihatnya, tepatnya dua kali di tempat yang sama, dan satu kali dalam mimpinya disuatu pagi, sudah cukup membuatnya insomnia selama tiga minggu. Dari hasil investigasi mendadak dan terbatas yang dilakukannya (dan tanpa perlu melibatkan tim gabungan pencari fakta), mudah saja mengetahui bahwa sang cewek adalah mahasiswi kedokteran dengan jadwal kuliah yang lebih banyak pagi. Dan yang lebih penting (dan saat ini diamalkannya) waktu yang tepat untuk melihatnya kembali, dan kalo beruntung bisa menyapanya.
Tap..tap..tap, suara sepatu menampar-nampar lantai, yang diikuti sahutan, “Ron…Rony…!”.
Merasa terusik, Rony membalik tubuh, “Eh, Pen, lagi ngapain? Nurunin berat badan ya? Bagus itu. Lu kudu banyak olah raga, biar tidak melar seperti itu…” Rony yang menangkap sosok tambun Pepen yang tadi berlari ke arahnya, langsung ngasih konsultasi kesehatan gratis.
“Bu..hh..bu..hh..buh..hh..buh..bu..bu..kan.. bukan…ih..i..i..itu..!” Ujar Pepen yang masih ngos-ngosan, berupaya mengatur napas.
” Trus knapa lu ngejar-ngejar gue? Butuh tanda tangan lagi?” Rony mulai menggoda Pepen lagi, ngamatin ekspresi Pepen yang mulai cemberut karena tidak ditanggapin serius.
Nggak lucu, pikir Pepen. Tapi karena masih susah bernapas (sehabis dipaksa jogging tadi), sembari memegangi lututnya Ia cuma mampu menggeleng-gelengkan kepala.
“…atau jangan-jangan, masalah budget nih. Butuh brapa emang?” Rony sambil seolah-olah akan mencabut dompetnya.
“..Nggak!, Lagian bukannya lu yang biasanya minjem ke gue!” Pepen sudah mulai bisa bernafas kembali, sembari meneruskan,”Lu emangnya mau kemana?”
“Biasalah…urusan ati…” Ujar Rony sembari mengarahkan telunjuk ke dadanya.”Lho, Lu sendiri gak kuliah?”
“Justru itu. Hari ini ada midtest. Mata kuliah yang lu ikut program itu….”
Buset, mati aku pikirnya. Rony panik, “Knapa lu gak ngasih tau ke gue?”
“….Lha barusan? lagian tadi pagi gue nelpon ke tempat lu, tapi katanya lu udah berangkat!”
“Iya, kalo tadi malam pasti gue sedang tidur,” Rony jadi jengkel, soalnya Pepen yang ia percayakan menangani urusan kuliah yang satu itu, ternyata tidak bertanggungjawab. “setidaknya ada pemberitahuan ke gue 3 X 24 jam sebelumnya. jadinya kan gue bisa siap….”
“Sudah Ron! Udah beberapa beberapa kali gue nelpon ke elu, tapi katanya lu lagi keluar. Ponsel lu juga gak pernah diaktifin….”
“Yah sudahlah, ruangan mana nih?” ujarnya, setelah semenit ia habis menegur keras sahabatnya yang dinilai kurang reaktif itu.
“Lantai dua…”
Dan sesaat kemudian Rony sudah menyeret Pepen untuk kembali marathon-an ke ruang ujian.
***
Ruang 321 itu nampak riuh oleh suara anak-anak nyang lagi menghapal catatan kuliah masing-masing. Tina, si tomboy, nampak lagi serius komat-kamit di sudut, sambil mlototin lembaran-lembaran di depannya. Icha udah merapat ke dinding (mungkin karena masih ada kekerabatan ama cecak ya..) sambil berganti-ganti ngarahin pandangan dari buku dipangkuannya, ke arah plafon, trus ke buku lagi, dan seterusnya. Adi si nervous, mulai menarik-narik tepi bajunya tanpa sadar. Dan Roger sedang merobek-robek catatannya sambil mulai mengunyahnya……
Rony yang sudah tiba di ruang 321 yang bakal ditempatin ujian itu, langsung mendekati Dewi. “Wi, itu catatan lu?” ujarnya sambil menunjuk tumpukan kertas di depan Dewi.
Dewi yang juga sedang sibuk membaca, cuman bisa mengangguk.
“Kalo begitu gue pinjem bentar deh….”rebut Rony
“..eh, Ron.. mau dibawa kemana….?” protes Dewi panik.
“..bentar aja!” sahut Rony yang sudah menghilang dibalik pintu, setelah sebelumnya juga sudah merebut catatan Tina, Tono, Baby, Alif dan mereka semua cuma bisa teriak histeris.
“Rooon…….mau kemana?”
“Roon, gue harus baca apa ini!”
“Sini, balikin Ron…!”
“…mati aku, mana belum belajar….”
***
Rony segera menuju bursa fotokopian, sebagai alternatif terakhir. Untunglah masih pagi, jadinya bursa juga masih sunyi. Cuman ada seorang cewek yang sedang berbicara pada si mbak tukang fotokopi. Pakaiannya cukup rapi, tapi Rony ngerasa nggak ada waktu untuk mengamatinya lebih jauh. Mungkin lain waktu kita masih bisa ketemu, pikir Rony, seraya mulai konsentrasi pada tujuan utamanya menyerbu bursa ini pagi-pagi.
“Permisi, ya!”, ujarnya sembari menggeser tumpukan kertas hasil foto kopi si cewek.
“…ma-maap..maap. Ini emerjensi!”, ujarnya kembali setelah si Cewek mendelik ke arahnya, protes dengan gayanya yang maen srobot aja. “Buru-buru nih, tolong dong mbak!” Rony mulai menyerahkan tumpukan catatan untuk di fotokopi, ” o ya, perkecil!”
Dan seperti biasa, mbak si Operator fotokopi juga sudah mengerti untuk meminimizekan tumpukan catatan itu. Rony sedikit mulai tenang. Masih ada waktu.
“Pelampung ya..!”
Rony yang sudah nyaris lupa pada si Cewek, sedikit terkejut ketika si cewek menegurnya. Rony berpaling, rupanya si Cewek masih memberisin tumpukan hasil kopiannya.
“Bukan, prahu karet!”, Rony sudah mulai bisa tersenyum.
“Tapi, bukankah itu dilarang? melanggar peraturan kan?” Si Cewek masih sibuk menyusun tumpukan kertasnya. Meski terlihat muda, namun Rony terpaksa mengakui bahwa suara si cewek berwibawa.
“…yah, tapi peraturan kan masih bisa dilanggar. Lagi pula, Dosennya juga akan senang mlihat hasil pekerjaan gue kalo bener…” Bantah Rony, sembari mulai merapikan hasil fotokopiannya sendiri. Dia harus buru-buru ke kelas, dan, “Permisi…..!” ujarnya seraya menyelinap keluar.
***
Rony yang sudah kembali, disambut kemarahan besar teman-temannya. Bagi mereka, 20 menit berharga baru saja berlalu sia-sia tanpa adanya bahan hapalan, karena dibawa si Rony.
“Tenang sodara-sodara…, setelah gue periksa secara teliti, catatan kalian cukup lengkap!” ujarnya cuek, sembari mengacungkan tumpukan catatan kuliah yang tadi dirampoknya. Langsung saja teman-temannya berebut sambil memprotes.
“…ah elu Ron, gue jadinya lupa kembali nih!”
“…eh, lu dari mana sih, pake ngerebut catatan gue lagi!”
“…ah, halaman lainnya mana nih?”
“…Buset, kok jadi kebolak-balik gini nih. Lembaran laennya mana Ron?”
Tapi Rony sudah tidak peduli. Ia sekarang harus mendapatkan posisi. Lima menit lagi nih, sebelum ujian dilaksanakan, dan semua kursi sudah nyaris pada berpenghuni. Padahal, posisi juga menentukan, apalagi kalo pengen nyontek.
“E Hany, lu kayaknya mesti pindah ke depan deh. Dosennya kurang suka kalo cewek duduk di belakang!” Rony sedang mengincar kursi si Hany. Dan bukan dirinya kalo kagak berhasil, mesti harus rela memberi pujian sedikit pada gaya rambut si Hany, yang sebenarnya sangat tidak menarik itu.
Dan posisi itu memang strategis. Dengan Pepen berada disampingnya agak ke depan, si jenius Rifky di sebelahnya, dan si centil Ita (yang juga tergila-gila padanya) di sisi lain, sudah merupakan tim kerjasama yang sempurna. Belum perahu karetnya, sempurna!
***
“Saudara-saudara, hari ini kita mid test. Saya minta saudara-saudara dapat bekerja dengan baik, dan tentunya tanpa saling saling kerjasama diantara kalian…..!”
Terdengar suara Ibu Dosen yang kini sudah berada di ruangan. Kontan saja kegaduhan mereda meski beberapa mahasiswa masih mencoba ngapalin materi. Itung-itung, manfaatin waktu untuk kali terakhir.
Rony sendiri masih asik mengenali lingkungan sekitarnya, sehingga ia nyaris tidak menyadari kehadiran sang Dosen di ruangan itu. Tapi akhirnya suara dosen itu terdengar juga oleh Rony.
“Eh Pen, dosennya cewek?” bisiknya pada Pepen, masih asik mencermati berbagai perlengkapan penolongnya, dan juga lingkungan sekitarnya.
“He-eh. Lu sih gak pernah masuk…!”
“Tapi absen gue jalan kan?” Rony yang malas kuliah itu, memang sudah mewakilkan Pepen untuk ngabsenin tiap kuliah. Dan untuk itu, Pepen telah hapal betul tandatangan Rony. Bahkan, bila dibandingin tandatangan keduanya, pasti tandatangan Rony yang malah terlihat palsu.
“He-eh..” Pepen mengangguk ragu.
Jangan-jangan selama ini…, tapi Rony nggak punya waktu untuk klarifikasi. Dia mesti konsentrasi saat ini.
“Kamu Rony kan?” Suara Ibu Dosen yang sudah berada di sisinya.
“Yap!” Sahut Rony mantap, seraya melirik dan mengangkat wajahnya untuk kali pertama memperhatikan Dosen tadi. Dan…
“……K-ka.., ma..maksud saya i-ibu….” mampus deh gue, pikir Rony. Ia nyaris pingsan. ketika si Ibu Dosen ternyata cewek di fotokopian tadi.
“Ooo, jadi ujiannya di sini?” Si Ibu Dosen cuek saja ngasih soal dan lembar jawaban.
“Sa..sa..saya..,eh..eh…mm..” Rony shock.
“Gimana mau lulus, kalo munculnya saat ujian saja!” Dan Si Ibu Dosen berlalu santai, dan tentunya dengan perahu karetnya si Rony.
Mampus deh gue kali ini, batin Rony.
***
Bagus, Lucu, Sayang masih banyak salah ketikkannya, saat yang dimaksud RONY yang diketik ROGER, seperti Roger menghilang dibalik pintu,Roger mulai tersenyum, Roger malas kulih, ada juga yang dimaksud Pepen malah diketi Rony… tapi selain itu semuanya Bagus, alurnya gak ngebosenin, Juga lucu sekali hi…hi… MAHASISWA SEKALILAH… BUKAN PENGALMAN PRIBADIKAN HE…HE…
bagus juga nih … ngomong2 beli perahu karetnya dimana nih ?
Haloo Andie… Aku anita salam kenal… menurutku itu pasti pengalaman pribadimu kan soalnya nyata banget penggambarannya he…he…