…Say what we do. Say what we have done. Jangan berbohong kepada rakyat.
Pernyataan diatas dilontarkan Presiden beberapa waktu lalu, saat menghadiri silaturrahmi anggota legislatif Partai Demokrat seluruh Indonesia di Jakarta. Selaku ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Ia meminta kader partainya mewartakan banyak hal yang telah dilaksanakannya selama ini.
25 Mar 2007 – kolom agaKareba.com
Pernyataan tersebut seolah-olah menjawab pernyataan Wapres Jusuf Kalla sehari sebelumnya dalam forum yang sama, yang mengingatkan SBY akan pentingnya mewujudkan janji jika ingin terpilih kembali pada Pilpres 2009.
Menurut Kalla, sebagai seorang incumbent, kata awal yang harus digunakan adalah ‘saya telah melaksanakan’. Karenanya, tidak bisa lagi mengatakan, ‘saya akan’, sebab menurutnya hal ini akan menimbulkan pertanyaan bagi rakyat tentang apa saja yang telah diperbuat selama lima tahun masa jabatan yang dilalui sebelumnya.
Bagi Incumbent di Pilkada Sulsel.
Pernyataan Yusuf Kalla yang juga adalah Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar tersebut memang menarik jika dicermati. Sebab hal ini juga bisa menjadi ‘rumusan’ yang berlaku dalam konteks Pilkada, termasuk Pilkada Sulsel November mendatang yang juga diikuti oleh calon incumbent.
Meski masih beberapa bulan lagi, namun persiapan para bakal calon yang akan maju dalam Pilkada Sulsel 2007 ini memang telah terasa. Bahkan jauh sebelumnya, manuver itu telah mulai dilakukan.
Dan hingga kemarin, dua sosok yang disebut-sebut sebagai bakal calon yang akan meramaikan bursa Pilkada Sulsel mendatang adalah Amin Syam dan syahrul Yasin Limpo. Keduanya juga masih merupakan pejabat gubernur dan wagub periode ini.
Kedua sosok tersebut juga telah resmi mendapat dukungan dari Partai Politik (yang memang memiliki hak) untuk mengajukan calon dalam pilkada. Dengan demikian merekalah yang menjadi calon incumbent di Pilkada Sulsel kali ini.
Kembali pada pernyataan Kalla tadi, pencapaian kinerja mereka selama lebih kurang lima tahun ini akan menjadi tolok ukur konstituen di sulsel untuk memberikan dukungannya. Sebagai calon yang sedang memerintah, capaian dan pemenuhan janji yang diupayakan dipenuhi dalam lima tahun memerintah menjadi modal untuk kampanye. Meminjam istilah Kalla, jika tidak ada yang ‘telah’, maka habislah calon tersebut.
Dilema incumbent, jebakan atau amunisi ?
Lalu benarkah posisi sebagai incumbent tersebut lebih rentan? Apakah ini menjadi sebuah dilema?
Seperti yang telah sering diungkapkan, perilaku pemilih di Indonesia (termasuk di sulsel tentunya) dibedakan atas pemilih rasional dan tak rasional. Secara sederhana, pemilih rasional biasanya dicirikan oleh sikap kritis dengan gradasi pendidikan dan lingkungan tertentu . Secara statistik, jumlah mereka juga dinyatakan terus meningkat seiiring dengan peningkatan pendidikan politik di masyarakat.
Maka bagi calon incumbent, kerentanan posisinya adalah lebih besar dihadapan pemilih seperti ini. Pemenuhan janji politik selama masa kampanye lalu akan sangat diukur dan dikritisi. Dimata mereka, kampanye saat ini diharapkan semata-mata bersendikan pemaparan atas ‘apa yang telah’ dan bukannya pada kalimat ‘apa yang akan’. Bukankah kesempatan itu telah diberikan?
Lalu bagaimana dengan pemilih selebihnya? Berbeda dengan pemilih rasional, para pemilih tak rasional ini cenderung tidak bersikap kritis sebagaimana yang pertama. Dimata mereka, faktor-faktor kedekatan, kharisma, money politics, dan lain-lain, lebih merupakan penuntun bagi mereka dalam menentukan pilihan. Karena itu bagi calon incumbent akan sangat mudah meraih massa dari kelompok pemilih ini. Mereka pulalah yang terkadang menjadi pendukung terbanyak bagi calon incumbent.
Namun demikian tidak berarti bahwa kerentanan akan kehilangan dukungan kelompok tersebut tidak ada. Sebagai kelompok massa yang biasanya terbanyak merupakan ‘grass root’, perilaku mereka (yang terkadang pula terposisikan sebagai massa mengambang ini ) kadang kala sangat mudah beralih. Apalagi jika selama masa jabatan balon incumbent tersebut, mereka tidak merasakan perubahan menyangkut kehidupan dan kesejahteraan mereka. Bukankah masyarakat kita juga terkenal gandrung pada sesuatau yang baru, sebagaimana mereka mudah bosan terhadap yang lama?
Katakan apa yang telah dilakukan, jangan berbohong.
Karena itu, tidak ada jalan lain kecuali berterus-terang kepada masyarakat atas pencapaian yang selama ini telah dilakukan. Hal itu akan merupakan bagian dari komunikasi sosial dan politik yang penting kepada masyarakat di wilayah ini. Dan pada konteks ini, baik bakal calon maupun masyarakat sama-sama berkepentingan.
Pemaparan atas pencapaian kinerja dan pemenuhan janji bagi seorang bakal calon Gubernur dan wakil gubernur yang masih menjabat (incumbent) merupakan bagian dari akuntabilitas dan keterbukaan. Hal tersebut akan merupakan kampanye yang jauh lebih baik ketimbang sekedar pembentukan kelompok massa dan pemasangan poster diri di tepi jalan!
0 Tanggapan ke “… Say what we have done”