Bagaimana potret kemiskinan di negeri ini ketika ditampilkan di layar kaca? Mengutip Budayawan dan Kolumnis Prie GS dalam buku kumpulan tulisannya “Hidup Bukan Hanya Urusan Perut” (2008:79), Kemiskinan ternyata juga sesuatu yang menghibur. Menurut Prie GS, kalau tidak percaya tontonlah televisi hari-hari ini.
Di layar kaca televisi kita belakangan ini memang tengah marak tayangan yang menjajakan kemiskinan sebagai tontonan. Sejumlah stasiun televisi seolah berlomba menghadirkan tayangan yang menampilkan kehidupan orang miskin.
Tengoklah acara-acara reality show semacam “Minta Tolong”, “Bedah Rumah”, “Duit Kaget”, dan “Dibayar Lunas” yang ditayangkan oleh RCTI, “Tukar Nasib” dan “Pemberian Misterius” di Stasiun SCTV, atau “Tangan di Atas” dan “Jika Aku Menjadi” yang tayang di Trans TV.
Umumnya acara-acara tersebut menampilkan kehidupan orang-orang miskin. Harapannya dapat memancig rasa iba hingga tetesan airmata para penonton televisi. Meski ada juga acara yang sekedar menampilkan bagaimana bila si miskin ini “dikerjai”.
Dalam sebauah acara misalnya, terlihat orang miskin diberi uang jutaan rupiah untuk dibelanjakan habis hanya dalam dalam hitungan waktu puluhan menit saja. Layar kaca pemirsa pun mempertontonkan wajah keringatan dan tangan gemetaran si miskin saat memiliki setumpuk uang yang mesti dihabiskannya dalam hitungan waktu yang sesingkat-singkatnya pula, menjadi hiburan tersendiri (dan karenanya mungkin sambil tertawa) ketika kita menontonnya.
Sedang Digemari
Maraknya tayangan yang menampilkan potret kemiskinan tersebut menurut pengelola televisi disebabkan karena tayangan ini memang tengah digemari. Seperti diungkapkan oleh salah satu Manager Senior Humas salah satu stasiun televisi swasta nasional yang menegaskan jika salah satu “reality show” yang tayang di stasiunnya tidak dimaksudkan untuk menjual kemiskinan. Mereka hanya ingin agar orang-orang kebanyakan juga bisa masuk televisi, bukan cuma orang kaya.
Kebetulan pula katanya, acara reality show yang berlatar belakang orang miskin sedang digemari penonton. Mengambil contoh acaranya yang pernah meraih audience share hingga 22 persen. Orang menurutnya mungkin sudah bosan dengan acara sinetron yang menampilkan kehidupan orang kaya. Sekarang orang lagi senang yang miskin-miskin.
Sekedar Melambungkan Mimpi
Boleh jadi, masyarakat kita memang tengah gandrung dengan kemiskinan yang dalam kenyataan kehidupan sehari-hari ada di sekeliling mereka. Kemiskinan menjadi begitu dekat, bahkan kini dalam kemasan hiburan di televisi.
Tetapi disini pula letak persoalannya. Ketika acara bagi-bagi uang itu hanya melambungkan mimpi si miskin. Seperti kata Prie GS, duit yang butuh dikumpulkan selama bertahun-tahun bahkan oleh pekerja menengah paling keras sekalipun ini bisa diperoleh dalam sekejap oleh orang yang dilabeli sebagai si miskin itu.
Seperti harapan M Sholeh alias Talen, bapak enam anak berusia 54 tahun yang berprofesi sebagai penjual koran. Talen yang beberapa tahun sebelumnya pernah mengalami didatangi tim acara reality show “Uang Kaget” dan diberi uang sepuluh juta rupiah untuk dibelanjakan dalam waktu setengah jam itu, kini berharap bisa dapat uang kaget lagi. Dia juga berharap rumahnya bisa dibedah seperti di acara “Bedah Rumah” (Kompas Minggu, 31/05/09). Seperti juga yang dirasakan Ujang (65), Pemulung di kawasan rel kereta api dekat Pasar Senen Jakarta Pusat, yang setiap ada kamera televisi menyorot kepadanya, berharap akan mendapatkan uang kaget.
Begitulah tayangan-tayangan televisi kita kini memberi harapan baru bagi masyarakat, tidak terkecuali bagi si miskin. Termasuk terhadap kita yang sekedar menjadi penonton kemiskinan di depan layar televisi. Kemiskinan yang menurut Prie GS begitu dekat, begitu menjerat. Jeratan itu telah melilit kita bersama sehingga kita kebingungan harus berbuat apa: Menolong atau menertawakannya.