Arsip untuk Agustus, 2009

30
Agu
09

Menonton Kemiskinan di Televisi

Bagaimana potret kemiskinan di negeri ini ketika ditampilkan di layar kaca? Mengutip Budayawan dan Kolumnis Prie GS dalam buku kumpulan tulisannya “Hidup Bukan Hanya Urusan Perut” (2008:79), Kemiskinan ternyata juga sesuatu yang menghibur. Menurut Prie GS, kalau tidak percaya tontonlah televisi hari-hari ini.
Di layar kaca televisi kita belakangan ini memang tengah marak tayangan yang menjajakan kemiskinan sebagai tontonan. Sejumlah stasiun televisi seolah berlomba menghadirkan tayangan yang menampilkan kehidupan orang miskin.
Tengoklah acara-acara reality show semacam “Minta Tolong”, “Bedah Rumah”, “Duit Kaget”, dan “Dibayar Lunas” yang ditayangkan oleh RCTI, “Tukar Nasib” dan “Pemberian Misterius” di Stasiun SCTV, atau “Tangan di Atas” dan “Jika Aku Menjadi” yang tayang di Trans TV.
Umumnya acara-acara tersebut menampilkan kehidupan orang-orang miskin. Harapannya dapat memancig rasa iba hingga tetesan airmata para penonton televisi. Meski ada juga acara yang sekedar menampilkan bagaimana bila si miskin ini “dikerjai”.
Dalam sebauah acara misalnya, terlihat orang miskin diberi uang jutaan rupiah untuk dibelanjakan habis hanya dalam dalam hitungan waktu puluhan menit saja. Layar kaca pemirsa pun mempertontonkan wajah keringatan dan tangan gemetaran si miskin saat memiliki setumpuk uang yang mesti dihabiskannya dalam hitungan waktu yang sesingkat-singkatnya pula, menjadi hiburan tersendiri (dan karenanya mungkin sambil tertawa) ketika kita menontonnya.

Sedang Digemari
Maraknya tayangan yang menampilkan potret kemiskinan tersebut menurut pengelola televisi disebabkan karena tayangan ini memang tengah digemari. Seperti diungkapkan oleh salah satu Manager Senior Humas salah satu stasiun televisi swasta nasional yang menegaskan jika salah satu “reality show” yang tayang di stasiunnya tidak dimaksudkan untuk menjual kemiskinan. Mereka hanya ingin agar orang-orang kebanyakan juga bisa masuk televisi, bukan cuma orang kaya.
Kebetulan pula katanya, acara reality show yang berlatar belakang orang miskin sedang digemari penonton. Mengambil contoh acaranya yang pernah meraih audience share hingga 22 persen. Orang menurutnya mungkin sudah bosan dengan acara sinetron yang menampilkan kehidupan orang kaya. Sekarang orang lagi senang yang miskin-miskin.

Sekedar Melambungkan Mimpi
Boleh jadi, masyarakat kita memang tengah gandrung dengan kemiskinan yang dalam kenyataan kehidupan sehari-hari ada di sekeliling mereka. Kemiskinan menjadi begitu dekat, bahkan kini dalam kemasan hiburan di televisi.
Tetapi disini pula letak persoalannya. Ketika acara bagi-bagi uang itu hanya melambungkan mimpi si miskin. Seperti kata Prie GS, duit yang butuh dikumpulkan selama bertahun-tahun bahkan oleh pekerja menengah paling keras sekalipun ini bisa diperoleh dalam sekejap oleh orang yang dilabeli sebagai si miskin itu.
Seperti harapan M Sholeh alias Talen, bapak enam anak berusia 54 tahun yang berprofesi sebagai penjual koran. Talen yang beberapa tahun sebelumnya pernah mengalami didatangi tim acara reality show “Uang Kaget” dan diberi uang sepuluh juta rupiah untuk dibelanjakan dalam waktu setengah jam itu, kini berharap bisa dapat uang kaget lagi. Dia juga berharap rumahnya bisa dibedah seperti di acara “Bedah Rumah” (Kompas Minggu, 31/05/09). Seperti juga yang dirasakan Ujang (65), Pemulung di kawasan rel kereta api dekat Pasar Senen Jakarta Pusat, yang setiap ada kamera televisi menyorot kepadanya, berharap akan mendapatkan uang kaget.
Begitulah tayangan-tayangan televisi kita kini memberi harapan baru bagi masyarakat, tidak terkecuali bagi si miskin. Termasuk terhadap kita yang sekedar menjadi penonton kemiskinan di depan layar televisi. Kemiskinan yang menurut Prie GS begitu dekat, begitu menjerat. Jeratan itu telah melilit kita bersama sehingga kita kebingungan harus berbuat apa: Menolong atau menertawakannya.

29
Agu
09

Pemilu Yang Sakit

Di tengah hiruk pikuk janji parpol dan politisi dalam kampanye terbuka, dan distribusi logistik pemilu yang masih karut marut serta kisruh DPT yang masih membayangi kesuksesan pemilu 9 April medatang, apa yang tersaji bagi kita sebagai rakyat dari pelaksanaan  kampanye terbuka (rapat umum) selama ini justru tidak lepas dari begitu kerapnya pelanggaran yang terjadi.

Pelibatan anak-anak, penampilan dan goyangan seronok artis penghibur di atas panggung kampanye, pelanggaran lalu lintas para peserta kampanye, penyalahgunaan fasilitas negara, hingga persoalan politik uang adalah deretan pelanggaran yang terjadi dalam masa pelaksanaan kampanye terbuka.

Celakanya, dalam hitungan hari-hari menuju pelaksanaan pemilu legislatif yang semakin dekat ini, sejumlah persoalan masih terus membayangi kinerja KPU. Distribusi logistik termasuk kekurangan surat suara di sejumlah daerah masih terjadi. Sementara kerusakan surat suara juga berjumlah tidak sedikit. Hal yang tentu saja dapat mengancam pelaksanaan pemilu tepat waktu.

Di atas panggung kampanye, daya tarik para artis penghibur mengalahkan orasi para elit partai politik. Panggung kampanye bagi konstituen lebih menarik sebagai panggung dangdutan daripada menjadi panggung politik parpol. Orasi politik tokoh-tokoh partai dan calon anggota legislative bagi peserta kampanye tidak jauh lebih memikat dibanding goyangan para artis penghibur yang seringkali masih begitu mempertontonkan keseronokan.

Mobilisasi konstituen menuju arena kampanye pun lebih banyak karena iming-iming materi. Demi uang saku yang besarannya hanya antara lima belas ribu rupiah sampai lima puluh ribu rupiah, hingga janji hadiah yang bisa diperoleh dari panggung-panggung kampnye. Tak heran, model kampanye di atas panggung belakangan ini bagi rakyat tak ubahnya ajang untuk menguji peruntungan. Dari bagi-bagi sembako, deretan hadiah di ujung pohon pinang, sampai undian berhadiah sepeda motor yang disiapkan oleh pelaksana kampanye.

Di sisi lain, kerumitan pelaksanaan pemilu dengan cara mencontreng yang baru pertama kali akan dilaksanakan di negeri ini belum sepenuhnya dipahami rakyat. Cara memilih dengan menggunakan alat tulis  untuk pertama kalinya ini masih menyisakan kesangsian akan keberhasilannya,, mengingat sosialisasinya yang tidak mampu menyentuh rakyat keseluruhan.

Di tengah kesulitan dan tekanan hidup yang terus membebani kehidupan mereka, rakyat makin dibingungkan oleh saling tuding elit politik -sebagai jualan kampanye, atas berbagai program yang ditujukan demi meringankaan kesulitan rakyat. Di mata rakyat, meski harus berjam-jam mengantri berdesak-desakan dan didera kepanasan, BLT yang kembali dicairkan di bulan ini yang bertepatan dengan masa kampanye terbuka tetaplah dianggap sebagai sesuatu yang setidaknya bias meringankan kehidupan mereka, meski itu hanya sebesar dua ratus ribu rupiah. Yang justru tidak mereka mengerti, jika beban kemiskinan dan kesulitan hidup yang terus membayangi kehidupan rakyat hanya menjadi komoditas kampanye yang saling ditudingkan antar elit penguasa yang sedang memerintah dengan elit lainnya yang juga telah pernah berkuasa. Sebab bagaimanapun, kemiskinan dan kesulitan hidup rakyat selama ini adalah tantangan yang masih membayangi rakyat memski pemilu dan penguasa telah silih berganti.

Sejauh ini yang terlihat elit-elit politik dan partainya masing-masing justru mempertontonkan ambisi politik dan birahi atas kekuasaan yang begitu mereka perebutkan. Maka tak mengherankan jika politik uang masih menjadi warna kampanye pemilu kali ini. Membeli harga diri rakyat sebagai pemilih yang ironisnya justru teramat sering dengan harga yang amat tak pantas. Dengan kata lain, beban kemiskinan dan kesulitan hidup rakyat penuntasannya seharusnya mmenjadi tanggungjawab setiap pemerintah ketika ia telah berkuasa, tanpa perlu diwariskan ke pemerintahan berikutnya. Kegagalan masing-masing elit di masa kekuasaannya hanya menegaskan tidak adanya perbedaan antara satu dengan yang lainnya.

Alih-alih memberi pendidikan dan pendewasaan politik terhadap rakyat sebagaimana yang diharapkan, pemilu kini justru mengesankan pragmatisme dan pemenuhan kebutuhan sesaat rakyat. Kampanye sebagai bagian dari proses pemilu kenyataannya hanya makin menjauhkan rakyat dari bagaimana memaknai sebuah prosedur atas nama demokrasi.

Bagi-bagi sembako menjadi senjata ampuh memikat rakyat meramaikan arena kampanye. Iming-iming rupiah bukan lagi basa-basi untuk memobilisasi massa. Bahkan begitu banyak caleg yang tidak tahu lagi menempatkan diri di mata calon konstituen.

Tengoklah model kampanye dari mulai pengobatan gratis, gunting rambut, pemijatan, hingga pertunjukan sulap yang dilakukan oleh sosok-sosok calon wakil rakyat. Dengan argumentasi melayani rakyat, mereka mencoba memikat perhatian calon pemilih dengan kemampuan yang mereka miliki dan kuasai, meski terasa sulit untuk mencari hubungan dengan upaya mereka menuju gedung legislatif yang nota bene akan sarat dengan tugas-tugas yang jauh lebih sulit dari sekedar mencukur gratis atau mempertunjukkan  kemampuan sulap ala pemain sirkus.

Yang terlihat justru kegagalan memaknai pemiilu sebagai proses demokrasi. Bagi para elit politik, pemilu sekedar mengesankan ajang saling berebut kedudukan dan kekuasaan di gedung-gedung perwakilan dengan menghalalkan berbagai cara. Sementara bagi rakyat, pemilu selama ini hanya mengajarkan bagaimana memenuhi kebutuhan hidup sesaat dengan pemberian-pemberian para calon legislatif itu berupa sembako, uang dan lain sebagainya terhadap mereka.

Karenanya, tidaklah mengherankan jika pemilu kali ini justru dikuatirkan akan membuat banyak caleg yang tidak terpilih akan terserang depresi dan gangguan jiwa. Beberapa Rumah Sakit Jiwa di berbagai daerah bahkan telah menyiapkan ruang perawatan khusus sebagai antisipasinya. Kekuatiran atas ancaman sakit jiwa yang telah menanti para caleg yang tidak terpilih kelak benar-benar hanya menegaskan bagi kita bahwa pemilu kali ini memang sakit!.
(Juli 2009)




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.